AI Bukan untuk Menggantikan Guru, Tegas Menko Pratikno
Menko Pratikno menegaskan bahwa AI bukan untuk menggantikan guru, sementara pakar seperti Daphne Koller dan UNESCO menilai peran guru tetap penting dalam pendidikan modern.
Menko Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno menegaskan bahwa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak boleh dilihat sebagai ancaman yang akan menghapus profesi guru, melainkan alat bantu yang memperkuat proses belajar mengajar.
Menurut Pratikno, kemajuan AI membuka banyak peluang untuk mempermudah pekerjaan administrasi, menyediakan materi belajar adaptif, serta memperluas akses pengetahuan. Namun, ia menekankan bahwa kehadiran teknologi tidak dapat menggantikan sentuhan manusia dalam pendidikan. âGuru tidak hanya mengajar, tapi mendampingi, memahami kondisi sosial-emosional siswa, membentuk karakter, dan memberi motivasi. Itu semua tidak bisa digantikan mesin,â ujarnya dalam keterangannya.
Ia menjelaskan bahwa guru justru perlu mengambil peran baru yang lebih strategis di era AI: menjadi fasilitator, pembimbing, dan penghubung antara teknologi dan pemahaman siswa. Guru dapat memanfaatkan AI untuk menyiapkan materi, menyediakan variasi metode belajar, dan menganalisis perkembangan siswa, sehingga mereka bisa lebih fokus pada aspek yang membutuhkan interaksi manusia secara langsung.
Pandangan ini sejalan dengan pendapat sejumlah pakar pendidikan dunia. Daphne Koller, ilmuwan komputer dan pendiri Coursera, pernah mengatakan bahwa AI sangat efektif dalam menampilkan materi yang terstruktur, tetapi tidak dapat menggantikan interaksi manusia dalam proses pendidikan. âAI bisa membantu personalisasi belajar, tetapi manusia tetap dibutuhkan untuk empati, motivasi, dan pengambilan keputusan kontekstual,â ujar Koller dalam wawancaranya.
UNESCO juga menegaskan hal serupa dalam laporan resminya mengenai pendidikan berbasis teknologi. Organisasi tersebut menilai bahwa pembelajaran yang bermakna tetap membutuhkan peran guru sebagai pengarah moral, integritas, dan kemampuan berpikir kritis. Teknologi hanya dapat bekerja optimal jika guru tetap menjadi pusat pembelajaran.
Sementara itu, siswa diharapkan menggunakan AI dengan bijak. Mereka perlu aktif bertanya, berdiskusi, dan tetap mengembangkan kemampuan analisis, bukan hanya mencari jawaban instan dari teknologi. Pendidikan, menurut pakar pendidikan Sir Ken Robinson (alm), adalah interaksi manusia yang membangun kreativitas dan karakter; teknologi dapat memperkaya proses, tetapi tidak dapat menggantikannya.
Dengan pernyataan Pratikno dan dukungan pandangan para pakar, masa depan pendidikan Indonesia berpotensi menjadi lebih kuat jika teknologi dan manusia berjalan beriringan. AI hadir sebagai pendamping yang mempercepat proses, sementara guru tetap menjadi figur utama yang membentuk masa depan generasi muda.





